Lama tak hujan, harga pasir Merapi meroket
Merdeka.com - Volume pasir di hampir seluruh sungai di lereng Gunung Merapi semakin menipis. Kondisi tersebut membuat pasir semakin langka di pasaran Jawa Tengah dan sekitarnya. Akibatnya harga pasir mengalami kenaikan tajam, baik di dam maupun di pasaran.
Camat Kemalang, Kabupaten Klaten, Bambang Haryoko membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya kelangkaan pasir disebabkan deposit pasir dan batu pascaerupsi Merapi pada 2010 lalu hampir habis.
"Di sini kan sudah lama tak terjadi hujan. Jadi material yang ada di puncak Merapi tidak bisa terbawa ke sungai," ujar Bambang, kepada merdeka.com, Jumat (16/5).
Menurut Bambang warga dan penambang pasir saat ini berharap agar turun hujan di puncak Merapi. Jika material berupa batu dan pasir tak segera mengisi sungai di Kali Woro dan Gendol, dikhawatirkan terjadi kelangkaan pasir yang lebih parah. Jika pasir langka, lanjut Bambang, dipastikan banyak juga warga yang akan menganggur.
"Harapannya terjadi hujan deras di puncak Merapi, tapi jangan membawa korban. Sehingga pasirnya bisa digunakan lagi," harapnya.
Menurut Bambang, harga pasir asal Dam Kendasari saat ini mencapai Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu per rit/truk. Padahal harga normal hanya Rp 200 ribu. Harga ini akan semakIn melambung setelah sampai ke pengecer, yakni lebih dari dua kali lipat.
Mahalnya pasir tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi proyek pemerintah di Klaten dan sekitarnya yang selama ini menggunakan pasir Merapi.
"Semakin langka, baik di Kali Woro dan Kali Gendol. Kalau di Woro kan nunggu hujan, di Kali Gendol mungkin bisa pakai escavator. Karena sekarang yang operasi di Woro semua penambang manual," katanya.
Bambang menuturkan warga Merapi saat ini hanya bisa menunggu hujan deras di puncak. Dari hujan tersebut kemudian akan menjadi lahar hujan baru, yang kemudian membawa pasir dan batu. Sehingga harga pasir akan segera turun dan menjadi normal.
Wahono, salah satu pengecer pasir asal Wonosari, Klaten mengiyakan kelangkaan pasir tersebut. Menurutnya harga pasir satu truk bisa mencapai Rp. 1 juta.
"Dulu cuma Rp 600 ribu, sekarang bisa sampai Rp 1 juta, itupun susah dapatnya. Pasirnya yang dari Merapi sudah jarang," keluhnya.
No comments:
Post a Comment