Thursday, September 10, 2015

Harga Pasir Merapi Meroket

Harga Pasir Merapi Meroket
Di Magelang Tembus Rp 1,25 Juta/ Rit


MUNTILAN – Harga pasir Merapi sejak tiga bulan terakhir tembus Rp 1,25 juta/ rit dengan volume sekitar lima meter kubik. Tingginya harga tersebut, diduga akibat sulit mendapatkan pasir. Sejak beberapa tahun lalu, tak ada banjir yang memenuhi kantong- kantong lahar di sungai-sungai yang berhulu di kaki Gunung Merapi. Karena itu, deposit pasir habis akibat ditambang secara terus menerus. Kendati demikian, harga pasir terus meroket. Akhir 2014 masih Rp 150.000/m3. Menjelang Idul Fitri 2015 naik Rp 10.000/m3. Tetapi sejak tiga bulan silam harga pasir di lokasi penambangan Rp 175.000/m3. Jika beli di depo Rp 180.- 000/m3. ‘’Harga jual di Kota Magelang Rp 1,25 juta/ rit, sudah termasuk BBM dan ongkos bongkar muat,’’ kata Parjo (40), sopir truk asal Mertoyudan, Magelang. Ia mengemukakan, dirinya membeli pasir dari penambang manual. Warna pasir sekarang memang tak lagi hitam. Tetapi agak kecokelatan. Tak Mudah Untuk membeli pasir dengan kondisi begitu saja, tak mudah, jika tak punya akses dan komunikasi yang baik dengan penambang manual. Aktivitas penambangan biasa berlangsung pagi hingga siang hari. Setelah itu, anggota kelompok penambang mencegat sopir truk di jalur menuju area penambangan. Transaksi bisa dilakukan jika sudah ada kesepakatan harga. Dari pantauan di jalur Magelang-Yogyakarta, sejumlah depo pasir terlihat sepi tanpa aktivitas.

Alat berat yang digunakan untuk bongkar muat, diparkir di dekat tumpukan pasir yang sudah tak lagi menggunung. Jumlah truk pasir yang masuk Pos Pemungutan Pajak Mineral Non Logam dan Batuan di Pare, Mungkid, juga makin berkurang. Hingga mendekati Lebaran 2015, yang dipungut pajak masih di atas 2.000 truk per hari. Tetapi selepas Idul Fitri, jumlah truk pengangkut pasir berkurang menjadi sekitar 1.500 truk/hari. “Sekarang, hanya tinggal sekitar 1.000 truk,” kata beberapa petugas di pos itu. Dampaknya, pendapatan daerah dari pajak mineral bukan logam, dikhawatirkan cenderung menurun.

Tuesday, September 8, 2015

Berebut Berkah Pasir Merapi

Berebut Berkah Pasir Merapi

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA    Waktu menunjukkan pukul 05.00. Sopir truk, Urip, mengawali aktivitasnya mengambil pasir Merapi di Sungai Gendol, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Warga Wedi, Kabupaten Klaten, ini berangkat satu jam lebih lambat dari hari biasanya lantaran puasa.
Melewati rute Manisrenggo menuju Sungai Gendol, ia mengemudikan truk milik bosnya dengan kecepatan 60 kilometer/jam. Hanya butuh satu jam untuk sampai di lokasi penambangan pasir.





Pagi itu, di kantong Urip terselip Rp 500 ribu, pemberian sang bos. Uang tersebut untuk biaya operasional pengambilan pasir Merapi, pesanan seorang kontraktor perumahan di Klaten. "Saya harus ngatur waktu, supaya bisa mengambil pasir dua kali sehari," ujarnya, baru-baru ini.
Tak hanya truk yang dikemudikan Urip, yang pagi itu antre di Sungai Gendol untuk segera dipenuhi pasir Merapi. Ratsan truk lain juga terlihat ada di sejumlah titik di Sungai Gendol dan siap dipenuhi pasir.
Beberapa saat kemudian, satu per satu truk-truk itu keluar dari Sungai dan bergerak menuju berbagai arah, sesuai lokasi antaran pasir.
Pemandangan itu, nyaris terjadi setiap hari, mulai subuh hungga petang. Ratusan, atau bahkan ribuan truk mengangkut pasir dari Sungai Gendol, untuk kemudian dijual ke sejumlah pihak di banyak wilayah.
Harga satu truk pasir bervariasi, tergantung jauh dekatnya dari lokasi penambangan. Di Klaten, misalnya, harga pasir untuk konsumen perseorangan Rp 380 ribu. Di Magelang, harga jual ke depo penampungan pada kisaran Rp 60 ribu per meter kubik atau rata-rata Rp 420 ribu per truk. (satu truk sekitar tujuh meter kubik).
Sejumlah pemilik depo penampungan pasir ini, kemudian menjual ke toko bangunan. Untuk sampai ke Solo, pengelola Depo menjual satu truk pasir Merapi Rp 600 ribu. Pemilik toko bangunan menjual ke konsumen Rp 200 ribu per bak mobil pikap, berisi sekitar 1,5 meter kubik
Semakin jauh lokasi antaran, semakin mahal harga jual pasir Merapi, karena ongkos angkut juga makin mahal. Di wilayah Demak dan sekitarnya, harga satu truk pasir Merapi berisi 6 7 meter kubik, bisa laku Rp 1 juta.
"Harga ini hanya untuk daerah Demak dan sekitarnya. Kalau dijual ke Jepara dan Rembang harganya lebih mahal lagi," kata Dewi, pegawai toko bangunan Al Barokah di Jalan Raden Patah, Demak. (*)