Wednesday, April 22, 2015

HARGA PASIR MERAPI MELAMBUNG SEBAGIAN PENAMBANG NEKAT “GRESEK-GRESEK DI TANGGUL, EKSPLOITASI LAHAN PEKARANGAN”


HARGA PASIR MERAPI MELAMBUNG SEBAGIAN PENAMBANG NEKAT “GRESEK-GRESEK DI TANGGUL, EKSPLOITASI LAHAN PEKARANGAN”


Stok Pasir menipis, permintaan meningkat menyebabkan harga naik, sebagian Penambang mengesampingkan faktor keamanan.




CANGKRINGAN. Erupsi Merapi 2010 pada awalnya menjadikan tumpukan material melimpah, namun dengan berjalannya waktu, material di Cangkringan sekarang sudah menipis dan tinggal beberapa tempat yang masih tersedia cukup. Hal ini mengakibatkan harga semakin melambung yang berdampak penambangan semakin memprihatinkan ( ekploitasi lahan pekarangan, membahayakan tanggul, perlintasan / jembatan ).
Hukum ekonomi Pasar berlaku, dimana bila Permintaan tinggi sedang persediaan menipis maka menyebabkan kenaikan harga dan pencarian barang yang tidak wajar. Hal ini sudah terjadi di penambangan material pasir Merapi, kususnya di Kecamatan Cangkringan, 2011 harga satu Truk Rp. 70.000 sampai Rp. 100.000 dan di 2015 ini naik 500 % sampai 750 %. Tumpukan material tinggal berada di sektor utara ( hulu ) dan di hilir bisa dikatakan sudah habis, sedang permintaan masih tinggi.


Ini menyebabkan para penambang semakin sulit untuk mendapatkan material pasir, kususnya di sisi selatan (hilir), kadang para penambang berebut sesama temannya untuk mendapatkan pasir, ironisnya ada sebagian Penambang Manual di beberapa lokasi yang mengambil material pasir di tempat yang dilarang. Seperti yang terjadi di Bantaran Sungai Gendol tepatnya di timur Dusun Jetis Argomulyo Cangkringan, Penambang manual sudah kesulitan mencari pasir di tengah sungai, karena harga tinggi akirnya nekat ambil pasir dekat tanggul / bahkan mengambil pasir yang tambahan untuk mempertebal dan meninggikan tanggul paska 2010. Penambang di sekitar Jembatan Penyeberangan Bronggang, mulai menggogosi di selatan jalan Penyeberangan, padahal tumpukan itu sebagai penyangga jalan, Penambangan di lahan Pekarangan warga di sekitar eks Dusun Kali Adem, Petung, dll hingga menjadi kubangan-kubangan yang dalam, dan tempat-tempat lainnya.
Peristiwa di atas terpantau di beberapa hari yang lalu di lapangan, dan sudah dilaporkan ke Desa dan instansi lain, namun sampai dengan berita ini di tulis beberapa aktivitas penambangan tersebut masih berlanjut.
“ Kok Pak ……. kae nekat ndusiri tanggul to, karo Pemerintah di duwurke malah sak iki di jipuki, nek ono banjir gede rak yo mbebayani ( Kok Pak ….. itu nekat ambil di tanggul to, oleh Pemerintah ditambah ditinggikan, sekarang kok malah diambil, kalau ada banjir besar kan berbahaya ), gerutu Bu Jumiyem warga Dusun Karanglo, Argomulyo, Cangkringan.

No comments:

Post a Comment