Yogyakarta, Targetabloid - Harga material bangunan berupa pasir dari Gunung Merapi masih terbilang cukup tinggi harganya. Hal ini sesuai dengan pemantauan kami hari ini, Jum’at (6/6) di kawasan Kaliadem, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, harga pasir masih disekitar Rp. 400.000,- sampai Rp. 600.000,- per rit atau per bak truk pasir.
Sebelumnya penyebab dari harga melonjak tajam dikarenakan status Waspada Merapi yang terjadi pada bulan Mei kemarin. Faktor utamanya adalah dilarangnya aktifitas penambangan disekitar sungai yang berhulu di Gn. Merapi. Namun, hingga hari ini meskipun status Waspada Merapi telah turun harga pasir Merapi yang menjadi primadona para penjual material masih bertengger cukup mahal.
Menurut Kasimo (34) warga desa Cangkringan yang turut menambang pasir di kali Adem mengatakan bahwa tingginya harga pasir ini memang sengaja dipertahankan karena beberapa faktor, faktor pertama ialah memanfaatkan moment sebelum alat berat seperti backhole dan buldoser kembali menambang lagi, yang kedua adalah agar jalur evakuasi tidak rusak kembali yang diakibatkan oleh intensitas truk tambang yang lalu-lalang. Diharapkan dengan harga tinggi para sopir truk tidak sering-sering mencari pasir di kawasan kali Adem lagi.
“kami memang sengaja menetapkan tarif tinggi, ini karena memanfaatkan moment sebelum kapal keruk atau backhole dan buldoser yang dahulu sempat ditarik turun karena status Merapi kembali kesini. Yang kedua juga agar truk-truk tidak sering-sering lewat yang akan merusak lagi jalur evakuasi nantinya, soal laku atau tidaknya pasir kami tentu laku. Kami pun menerapkan tarif berbeda pula diantara sopir yang berasal dari DIY kami menetapkan tarif Rp. 400.000,- sedangkan dari luar DIY sekitar Rp. 600.000,-“ terangnya.
Namun, keadaan yang berbeda justru dialami oleh para sopir truk, Dino (30), sopir turk yang sehari-hari mengambil pasir merapi di kawasan kali Adem ini mengaku rugi besar dengan harga pasir yang tinggi. Dirinya tidak dapat menjual kembali pasirnya dengan harga yang tinggi karena konsumen memilih mendatangkan pasir dari kawasan lain, meskipun kualitasnya tidak sebagus pasir Merapi.
“Jujur kalau dihitung-hitung ya rugi besar, waktu ngambil disini dengan harga segini kemudian dijual di luar para pengepul maupun konsumen juga kadang-kadang menolak dengan harga yang saya tawarkan padahal sudah mepet ngambil untungnya” ungkapnya.(Red/HUM)
No comments:
Post a Comment